puisi

Rindu Itu Apa?

104964111-352-k372252

Oleh: Nur Ma’rifatul Jannah

 

Rindu itu belenggu, mengikat erat.

Rindu itu sendu, membawa rasa pilu.

Rindu itu merdu, bagai nyanyian lagu.

Rindu itu syahdu, khusyuk dalam kalbu.

Rindu itu madu, tetap manis meski ditepis.

Rindu itu hantu, gentayangan dalam angan.

Rindu itu debu, menerpa mata hingga pedih.

Rindu itu abu, sebab terbakar api cemburu.

Cahaya_Ma’rifaht

Malang, 07 Februari 2018

puisi

Mengeja Rintik Hujan

tumblr_mawyhkl64s1qz4d4bo1_500

Oleh : Nur Ma’rifatul Jannah

Hujan sudah reda

Namun egomu,

tak kunjung mereda

Aku lelah…

Termangu dalam sepi

Aku benci…

Katamu, tunggulah hujan reda

Kulapangkan hati tuk menanti

Hingga hujan pun reda kini

Namun egomu?

Tak sebanding dengan derasnya hujan

Amarahmu?

Tak sebanding dengan gemuruh petir

Benar nyatanya…

Sederasnya hujan,

Segaduhnya petir

Ia masih bisa lekas mereda

Seketika gemuruh riuh menyepi

Gelapnya deras hujan mengabur

Namun egomu…

Ternyata melebihi hujan badai

puisi

Sahabat Abstrakku

rain_1a
Nur Ma’rifatul Jannah

Hujan…

Masih tentang hujan…

Ia menyimpan begitu banyak arti

Yang tak semua orang dapat mengerti

Ia menyimpan begitu banyak rahasia

Yang tak semua orang dapat merasa

Ia menyimpan begitu banyak rasa

Yang tak semua orang dapat meraba

Ada kesejukan di tiap bulirnya

Ada bisikan rindu di tiap gemericiknya

Ada kenangan di setiap hembus aromanya

Apalah arti hujan sesungguhnya?

Begitu banyak orang menafsirkan hujan

Dengan sudut pandang yang beragam

Ia dianggap anugrah

kadang juga bencana

Ia dianggap lambang kebahagiaan

Kadang juga kedukaan

Ia dianggap sebagai penyemai harapan

Kadang juga penguras airmata

Bagaimanakah sosok sebenarnya hujan?

Mengapa orang mencintai dan membencinya?

Namun kenapa aku justru begitu mencintai hujan?

Meski sederas apapun ia mengguyur

Namun tak sedikitpun mengikiskan kecintaanku padanya

Meski ia mengguyur basah kuyup tubuh ini,

Menggigilkan tubuh yang rentan ini,

Membuatku terbaring demam esoknya,

Aku tetap mencintainya

Bagiku hujan adalah sahabat abstrakku

Ia menyimpan semua rahasia hatiku dalam derai rintiknya

Yang tak dapat setiap orang pahami

Hanya aku dan Yang mentitahkan hujan itu sendiri

Cahaya_Ma’rifaht

Malang, kala rintik hujan

puisi

Sajak Kelabu Di Balik Stasiun

Oleh : Nur ma’rifatul jannah20141221_071918

Kereta penataran berhenti mengakhiri perjalananku

Wonokromo, stasiun yang sama satu tahun silam

Semua masih sama; lorong-lorong jalan, musholla, kursi ruang tunggu

Mata ini tiba-tiba berair setelah beradu menatap setiap sudut itu

Air mata apa ini? Umpatku sambil mengusap kesal

Aku berjalan, berjalan menyusuri lorong stasiun

Bertanya pada satpam, penjaga loket, penjual di toko, supir angkot,

Tak peduli siapapun asal kutemukan cara pulang

Ini bukanlah masa satu tahun silam, ini adalah sekarang

Tak ada waktu untuk sekedar berdiam menanti

Tak ada yang memaksaku untuk tetap bertahan di kursi tunggu

Tak ada lagi perjumpaan, tak ada lagi penjemput rindu, semua telah kelabu

Aku menguatkan hati, tetap melangkah di tepian jalan raya demi kutemukan cara pulang

Ku menepi berhenti sejenak, bus mini menyambut

Akhirnya ku temukan caraku sendiri untuk pulang

Sendiri, tanpamu harus menanti

Malang, 30 Maret 2017

 

 

 

 

 

Nur Ma’rifatul Jannah dengan nama pena Cahaya_Ma’rifaht lahir tanggal 28 Maret 1996 tepatnya di Kota sejarah, Majapahit. Alumni PONPES Roudhotul Muttaqin Mojokerto. Menimba ilmu sejak SMP-SMA di Pondok tersebut. Sekarang melanjutkan kuliah di UIN MALIKI Malang jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Menyukai coret-coret kata sejak duduk di bangku SD hingga kini.

Fb        : cahaya ma’rifaht

Email   : makrifahtul.jannah@gmail.com

Cp       : 085815824715

 

 

 

puisi

Bercakap Dengan Tanya

 

tnyaSeakan lama tak kudapati goresan itu kini

Kucoba menatap ke arah cermin

Tak kutemukan adanya goresan simpul yang tersurat bahkan tersirat

Kosong…

Hanya kekosongan bagai ruang hampa

Di dalamnya bertebaran tanda tanya yang beterbangan tak berarah

Memenuhi lingkup kosong itu

Ingin kutangkap mereka satu persatu

Semua… semuanya…

Namun mereka tak sejinak yang kubayangkan

Tanyanya tak pernah puas dengan jawaban yang kuberikan sekedarnya

Yah… memang sekedar

Aku sendiri masih mengingkari jawaban itu

Sesekali aku marah, menangis, menjerit meneriaki mereka

Kenapa kekosonganku justru kau isi dengan tanyamu?

Tak cukup satu, tak hanya kau, tapi kalian

Enyahlah kumohon!

Keluarlah!

Cari jawaban itu sendiri dan sampaikan padaku

Jangan hanya menghantuiku

Kehadiranmu hanya akan memperburuk kekosonganku

Biarlah kekosongan ini terkosongkan dari adanya kalian

Enyah lantas ajaklah yang lain

Kata demi kata, tanda demi tanda, koma, seru, titik atau yang lainnya kemari mengisi kekosongan ini

Adanya mereka pasti akan membantuku dan membantumu melengkapi kisah ini

Menemukan jawaban darimu

Mengubah kekosonganku, menemanimu merangkai kata menjadi kisah untukku

Kau tak akan sendiri, kaupun tak akan kuusir pergi

Hanya saja ajaklah mereka

Kemari menemanimu, juga aku

Kita bersama merangkai narasi kehidupan ini

Cahaya_Ayya

puisi

Kita, Kalian pun Kami

masterkoepink

Apabila cinta tak lagi berpihak antara kita

Ingatlah satu hal

Bahwasanya cinta tak akan berpihak

Hanya pada salah satu diantara kita

Ia akan tetap berpihak

Pada diriku

Pun dirimu

Meskipun bukan dalam kata “kita”

Mungkin dalam kata kalian

Ataupun kami

Meskipun kita telah membelah diri

Menjadi aku juga kau

Ibarat 2 lidi lebih kuat dari pada satu

Tak perlulah kita rapuh

Sang Maha Cinta tak kan pernah membiarkan

Hingga menentukan waktu

Disaat nantinya kau menjadi kalian

Dan aku menjadi kami

Saat itulah kata “Kita”

Kan tersemayamkan dalam palung hati

151116

Cahaya_Ayya

 

 

puisi

Detik Sejenak

wpid-hujan

Di persimpangan sudut mata
Keduanya bertemu pandang
Mencoba mnyelami pusaran lingkaran dalam bola mata itu
Adakah Tuhan menyelipkan rahasia keindahan suatu masa disana?
Pagi…
Kala rintikpun dengan tiba menyapa
Sadar bahwa waktu tak bisa dihalau
Meski hanya sedetikpun
Namun rintik mampu menahan
Menahan untuk tetap berdiam

031216

Cahaya_Ayya

puisi

Rindu yang Melintas

 

687474703a2f2f3174346a75776974612e66696c65732e776f726470726573732e636f6d2f323031322f30332f66333332343163643163393037393038666539396235336334646136373863372d64347337726e635f6c617267652e6a7067

 

Seringkali aku diperolok rindu

Karena aku yang tak mampu mengakui

Seringkali rindu mendustai hati yang disinggahinya

Karena ia yang takut sesak di dada

Aku berujar rindu

Karena ia sedang mengembun disini (hati)

Meski kau coba tuk datangkan mentari,

Tuk mengakhirinya

Ia pun tersipu malu

Bersembunyi di balik awan

Karena ia tahu,

Rindu yang mengembun

Akan dapat menyejukkan,

Bukan menyesakkan

Hingga rindu yang dulu tersipu

Nantinya kan tersapu temu

151016

Cahaya_Ayya

 

puisi

Pernah Parah

Aku pernah mendadak menjadi gila seketika

Semata karena dirimu, kau yang jahat, kau yang sungguh kejam

Tlah mencuri hatiku….

Aku pernah menghujani hari-hariku dengan airmata

Hanya karena panah cintamu yang tlah menusuk hatiku

Aku juga pernah terpuruk larut dalam duka yang mendalam

Itupun cuma karena kamu yang tak pernah hilang dari ingatanku

Akupun pernah mati rasa hanya gara-gara cintamu

Yang masih membekas dihatiku

Aku juga pernah terbelenggu rindu yang membuatku jatuh

Tenggelam dalam danau linangan airmata

Aku juga pernah karam dalam lautan cintamu yang menghanyutkan

Aku juga pernah melayang di tengah rasa cinta dan benci

Yang di antaranya hanya satu jawaban yang kutemukan

Bahwa rasa sayangku yang tlah membuatku tak mampu melupakanmu

Berkali-kali ku tlah mencobanya

Namun hanya satu alasan yang membuatku selalu gagal

Aku tidak bisa untuk tidak mengingatmu

Sekuat apapun usahamu untuk membenci dan melupakan seseorang namun tak bisa terpungkiri bahwasanya kau tak kan mungkin untuk tidak mengingatnya

FIRST LOVE

 

cahaya_ayya

“SIMPLE LOVE”