Blog

Uncategorized

SURAT CINTA DARI SISWA

 

KAMIS, 24 AGUSTUS 2017

Kak Rifa selama mengajar di PP. Mamba’us Sholihin 2 baik banget, tetap sabar selama mengajar. Kak Rifa sangat baik saat mendidik kami. Padahal semua murid 7A telah mengecewakan kak Rifa tapi kak Rifa tetap bersabar. Terima kasih kak Rifa

-Cahya Kensa-

Kritik : kak Rifa kurang kejam saat mengajar. Kak Rifa  terlalu sabar, terlalu baik.

Saran : kalau mengajar jangan sabar-sabar wkwkwkwk

Semoga bisa mencapai cita-cita. Semangat ya kak Rifa. Semoga tambah pintar ya kak. Tambah cantik. Berguna bagi semua aamiin. Kak rifa jaga kesehatan ya? Jangan lupa sama kita. Kami akan rindu sama kak Rifa.

-Bahrul Aziz Amrullah-

Terima kasih kak Rifa. Kak rifa telah mengajar dan mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Kami semua sayang kak Rifa. Secepat itu kak Rifa pergi. Kak rifa sangat baik dan sabar. Kak rifa sangat sabar mengajar kami padahal kami sangat tidak menghormati kak rifa. Selamat tinggal kak Rifa. Semoga panjang umur dan selamat di perjalanan pulang.

-Avi. A-

Terima kasih bu rifa karena sudah mengajarkan saya bahasa arab dengan sabar. Semoga sehat selalu.

-Erlangga Dwi Andika-

Kak jangan lupakan kita

-Hafidz Yusuf-

Selamat tinggal. Thank you, terima kasih sudah mengajarkan aku dan kita semua. Terima kasih bu guru.

-Ilham-

Assalamu’alaikum… terima kasih atas ilmu yang diberikan. Semoga sehat selalu.

Saran : semoga ilmu yang diberikan bermanfaat bagi kita semua. Saya dan semua teman-teman  mengucapkan selamat menempuh perjalanan. Semuanya terasa berkesan karena kakak. Semoga tetap terlimpah rahmat kepada kakak. Wassalam.

-A. Dzihan Ilmi-

Kritik dan saran untuk bu Rifa

Menurut saya bu rifa itu orangnya baik, sabar, cantik. Terima kasih bu Rifa sudah mengajar kita sampai bisa. Terima kasih bu Rifa.

-M. Sandy al Hamid-

Saran buat kak Rifa jangan terlalu lembut.

Terima kasih banyak ilmu yang kak Rifa telah salurkan kepada kita. Terima kasih.

-Bintang Dwi Putra-

Buat kak Rifa, terima kasih karena anda telah mengajarkanku walau saya sering tidur di saat anda mengajar, tetapi aku sayang pada kak Rifa. Terima kasih dan sampai berjumpa lagi kak Rifa.

-Dion Bagus Eka Putra-

Bu Rifa, terima kasih ya bu guru selama ini bu guru sudah mendidik aku dan selama ini bu guru sudah memberikan yang terbaik untuk kelas 7A. Aku bangga menjadi murid bu guru, dan bu guru sangat cantik. Sampai jumpa lagi ya bu Rifa. Salam manis.

-Kaka Arjun Andika-

Terima kasih atas ilmu yang kakak ajarkan. Semoga bermanfaat bagi saya dan semua teman-teman saya. Semua yang kakak ajarkan sangat berkesan bagi saya. Kakak dalam mengajar sangat baik. Saya kasihan pada kakak karena kalau kakak mengajar, teman-teman saya ramai semua. Mohon maaf atas kesalahan saya dan teman-teman saya. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.

-Achmad Khoirudin Azubaidi-

SEMANGAT KAK!

Salam kenal muridmu

-Yoga-

Buat kak Rifa, terima kasih karena anda telah mengajarku walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud anda adalah untuk mengajarkan kami! Terima kasih dan sampai berjumpa lagi.

-Bayu Dwi Setiawan-

Saran : kalau bisa kak di sini lebih lama lagi. Masa baru berapa hari ngajar udah balik lagi. Kalau ngajar menurutku seru kak.

Kritik : di sini kurang lama sama pas ngajar bilang kalau mau balik malag bikin sedik jadi kepikiran. Kalau bisa sih bisa main kesini lagi.

Salam kenangan kak Rifa

-Arif Rahman Fathoni-

Surat untuk kak Rifa. Terima kasih kak Rifa sudah mendidik dan mengajar kami dengan baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih kak Rifa ☹..

-Nadhifa-

Terima kasih kak Rifa udah ngajar aku meski aku tak paham dengan yang kak Rifa ajarkan tapi aku akan semangat belajar bahasa arab. Terima ksih kak atas bimbingannya. Sampai jumpa lagi kak.

Salam…

-Arif-

Buat kak Rifa. Terima kasih kak karena kakak sudah mengajar kami bahasa arab sampai bisa bahasa arab sendiri. Thank you…selamat tinggal…

-Aldo Firmansyah-

Terima kasih karena sudah mengajar bahasa arab dengan sabar dan baik walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud kakak untuk mengajarkan kami! Terima kasih dan sampai jumpa kak Rifa!

-M. Sholahudin.W-

Kak Rifa dimohon jangan pulang

-Faza Khoirul Umam-

Surat untuk kak Rifa, terima kasih kak Rifa suda mendidik dan mengajar kami dengan baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih…

-Ahmad Abdul Hamid Manutho Gusti-

Buat kak Rifa terima kasih kak Rifa anda telah mengajarku walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud anda adalah untuk mengajarkan kami. Terima kasihkak Rifa. Kami sangat sayang dengan kak Rifa.

-Nanda Eka-

Saya sangat senang belajar bersama kakak Rifa. Kak Rifa orang yang baik dan sabar juga cantik. Saya sebagai wakil ketua kelas 7A saya mohon maaf kalau saya dan anggota warga kelas 7A punya salah selalu membuat kakak kesal. Saya mohon maaf ya kakak. Jangan lupakan kelas 7A ya kak Rifa…

Kami kelas 7A sayang pada kak Rifa

-Oktavian Ramadani-

Jum’at, 10 November 2017

Iklan
Uncategorized

SURAT CINTA DARI SISWA

 

surat cinta siswa

KAMIS, 24 AGUSTUS 2017, pertemuan terakhir kami. sekitar sebulan lebih lamanya kita bersua. kita sama-sama orang baru di tempat yang baru. Kalian siswa baru yang masuk SMP, PP Mamba’us Sholihin 2 Blitar, dan aku mahasiswa yang baru PKL disana. kebetulan aku mendapat bagian mengajar kelas VII A, dan ternyata kelasnya terpisah nan jauh dari wilayah Pondok. yah, kelas mereka berada di gedung baru yang letaknya di luar lingkungan Pondok, tapi terpisah dengan melewati rumah-rumah warga. jaraknya lumayan jika ditempuh dengan jalan kaki. dan yah, itu bagianku. bukan merasa keberatan, aku justru merasa bahagia dan bersyukur, meskipun bagi teman yang lain justru sebaliknya. aku senang, kenapa? karena aku jadi bisa jalan-jalan keluar. menghirup udara dengan lebih lega, berjalan menyusuri jalanan baru dan bertegur sapa dengan orang-orang baru di jalan. sederhana, tapi aku suka. ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan. pertemuan pertama dengan mereka, awalnya canggung itu pasti. Mereka masih siwa baru, yang juga masih baru adaptasi. lantas bertemu denganku guru PKL yang juga baru adaptasi. yah kita senasib lah jadinya. mereka masih dalam masa transisi dari latar belakang sekolah dan daerahyang berbeda-beda. ada yang dari MI, juga SD. Tidak semua pernah mengenal bahasa arab. pertemuan pertama kami hanya saling berkenalan, satu sama lain. mengenal secara biodata lantas bercerita. kurasa awal yang cukup menyenangkan. mereka menanggapi kehadiranku dengan hangat.

 

Kak Rifa selama mengajar di PP. Mamba’us Sholihin 2 baik banget, tetap sabar selama mengajar. Kak Rifa sangat baik saat mendidik kami. Padahal semua murid 7A telah mengecewakan kak Rifa tapi kak Rifa tetap bersabar. Terima kasih kak Rifa

-Cahya Kensa-

Kritik : kak Rifa kurang kejam saat mengajar. Kak Rifa  terlalu sabar, terlalu baik.

Saran : kalau mengajar jangan sabar-sabar wkwkwkwk

Semoga bisa mencapai cita-cita. Semangat ya kak Rifa. Semoga tambah pintar ya kak. Tambah cantik. Berguna bagi semua aamiin. Kak rifa jaga kesehatan ya? Jangan lupa sama kita. Kami akan rindu sama kak Rifa.

-Bahrul Aziz Amrullah-

Terima kasih kak Rifa. Kak rifa telah mengajar dan mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Kami semua sayang kak Rifa. Secepat itu kak Rifa pergi. Kak rifa sangat baik dan sabar. Kak rifa sangat sabar mengajar kami padahal kami sangat tidak menghormati kak rifa. Selamat tinggal kak Rifa. Semoga panjang umur dan selamat di perjalanan pulang.

-Avi. A-

Terima kasih bu rifa karena sudah mengajarkan saya bahasa arab dengan sabar. Semoga sehat selalu.

-Erlangga Dwi Andika-

Kak jangan lupakan kita

-Hafidz Yusuf-

Selamat tinggal. Thank you, terima kasih sudah mengajarkan aku dan kita semua. Terima kasih bu guru.

-Ilham-

Assalamu’alaikum… terima kasih atas ilmu yang diberikan. Semoga sehat selalu.

Saran : semoga ilmu yang diberikan bermanfaat bagi kita semua. Saya dan semua teman-teman  mengucapkan selamat menempuh perjalanan. Semuanya terasa berkesan karena kakak. Semoga tetap terlimpah rahmat kepada kakak. Wassalam.

-A. Dzihan Ilmi-

Kritik dan saran untuk bu Rifa

Menurut saya bu rifa itu orangnya baik, sabar, cantik. Terima kasih bu Rifa sudah mengajar kita sampai bisa. Terima kasih bu Rifa.

-M. Sandy al Hamid-

Saran buat kak Rifa jangan terlalu lembut.

Terima kasih banyak ilmu yang kak Rifa telah salurkan kepada kita. Terima kasih.

-Bintang Dwi Putra-

Buat kak Rifa, terima kasih karena anda telah mengajarkanku walau saya sering tidur di saat anda mengajar, tetapi aku sayang pada kak Rifa. Terima kasih dan sampai berjumpa lagi kak Rifa.

-Dion Bagus Eka Putra-

Bu Rifa, terima kasih ya bu guru selama ini bu guru sudah mendidik aku dan selama ini bu guru sudah memberikan yang terbaik untuk kelas 7A. Aku bangga menjadi murid bu guru, dan bu guru sangat cantik. Sampai jumpa lagi ya bu Rifa. Salam manis.

-Kaka Arjun Andika-

Terima kasih atas ilmu yang kakak ajarkan. Semoga bermanfaat bagi saya dan semua teman-teman saya. Semua yang kakak ajarkan sangat berkesan bagi saya. Kakak dalam mengajar sangat baik. Saya kasihan pada kakak karena kalau kakak mengajar, teman-teman saya ramai semua. Mohon maaf atas kesalahan saya dan teman-teman saya. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.

-Achmad Khoirudin Azubaidi-

SEMANGAT KAK!

Salam kenal muridmu

-Yoga-

Buat kak Rifa, terima kasih karena anda telah mengajarku walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud anda adalah untuk mengajarkan kami! Terima kasih dan sampai berjumpa lagi.

-Bayu Dwi Setiawan-

Saran : kalau bisa kak di sini lebih lama lagi. Masa baru berapa hari ngajar udah balik lagi. Kalau ngajar menurutku seru kak.

Kritik : di sini kurang lama sama pas ngajar bilang kalau mau balik malag bikin sedik jadi kepikiran. Kalau bisa sih bisa main kesini lagi.

Salam kenangan kak Rifa

-Arif Rahman Fathoni-

Surat untuk kak Rifa. Terima kasih kak Rifa sudah mendidik dan mengajar kami dengan baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih kak Rifa ☹..

-Nadhifa-

Terima kasih kak Rifa udah ngajar aku meski aku tak paham dengan yang kak Rifa ajarkan tapi aku akan semangat belajar bahasa arab. Terima ksih kak atas bimbingannya. Sampai jumpa lagi kak.

Salam…

-Arif-

Buat kak Rifa. Terima kasih kak karena kakak sudah mengajar kami bahasa arab sampai bisa bahasa arab sendiri. Thank you…selamat tinggal…

-Aldo Firmansyah-

Terima kasih karena sudah mengajar bahasa arab dengan sabar dan baik walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud kakak untuk mengajarkan kami! Terima kasih dan sampai jumpa kak Rifa!

-M. Sholahudin.W-

Kak Rifa dimohon jangan pulang

-Faza Khoirul Umam-

Surat untuk kak Rifa, terima kasih kak Rifa suda mendidik dan mengajar kami dengan baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih…

-Ahmad Abdul Hamid Manutho Gusti-

Buat kak Rifa terima kasih kak Rifa anda telah mengajarku walau saya tidak paham dengan apa yang anda ajarkan, tetapi aku paham maksud anda adalah untuk mengajarkan kami. Terima kasihkak Rifa. Kami sangat sayang dengan kak Rifa.

-Nanda Eka-

Saya sangat senang belajar bersama kakak Rifa. Kak Rifa orang yang baik dan sabar juga cantik. Saya sebagai wakil ketua kelas 7A saya mohon maaf kalau saya dan anggota warga kelas 7A punya salah selalu membuat kakak kesal. Saya mohon maaf ya kakak. Jangan lupakan kelas 7A ya kak Rifa…

Kami kelas 7A sayang pada kak Rifa

-Oktavian Ramadani-

Jum’at, 10 November 2017

Cerita, Resensi

Ada Apa Dengan Dilan???

dilan.jpg

Oleh : Nur Ma’rifatul Jannah

Berhubung banyak yg lagi pro kontra tentang Dilan yang lagi rame nih, padahal novelnya udah lama sih sebenarnya. terkait pro atau kontra, itu tergantung dari bagaimana kita menilai aja, dari sudut pandang mana kita melihat. Yah, setidaknya harusnya kita tidak menilai hanya dari satu sudut pandang saja lah, karena itu terkesan terlalu sempit dan kaku dalam membuat suatu kesimpulan. kenapa kontra? karena mereka ga baca sih… dikiranya novel dilan itu, novel anak SMA, alay, gombal, baper gtu lah… tp di lain  sisi ada hal positif lain yg tersimpan di dalamnya. Sederhana tapi menyimpan makna, mendalam malah. dan aku menemukan itu…makanya ini mau nulis resensinya. Hehe…

Novel dilan ini ada tiga seri bukunya. Pertama Dilan, dia adalah dilanku 1990. Kedua, dia adalah dilanku 1991. Keduanya itu merupakan novel yang menggunakan sudut pandang Milea. Novel seri ketiga, dengan judul Milea, suara dari Dilan. Nah yang terakhir ini menggunakan sudut pandang dari Dilan.

Novel series ini mengangkat kisah kehidupan remaja di masa SMA pada tahun 90an. Kisah remaja yang tak pernah luput tentang kisah kasih di sekolah terkait persahabatan dan juga percintaan. Kalau kita search di google tentunya sudah banyak yang nulis sinopsis tentang novel ini. searching aja!

Semua mempunyai pendapat masing-masing. Semua menulis dengan sudut pandang masing-masing. Kebanyakan mereka dibuat terkesan bahkan jatuh cinta dengan tokoh Dilan karena keunikannya. Dia seorang gengster, terkenal nakal, bandel, biasa tawuran, Tapi dia smart. Selalu jadi juara kelas pula.

Milea, sosok siswi pindahan dari Jakarta yang kehadirannya di Bandung membuat Dilan jatuh hati.

“Jangan rindu, berat! Kamu ga akan kuat. Biar aku saja.” ~Dilan~

Itu salah satu kata-kata Dilan yang sangat viral di media sosial pun di dunia nyata. Apalagi anak-anak remaja yang lagi baper-bapernya. Kebanyakan dari mereka menilai dari sudut pandang ini nih, sosok dilan yang kata-kata gombalnya ga biasa. Ga alay lebay gitu tapi maknanya dapet alias ngena. Kadang bikin pembaca nyengir-nyengir sendiri gegara ulah dan kata-katanya Dilan itu. begitu pula dengan aku, termasuk juga pembaca yang dibuat jatuh cinta oleh sosok Dilan ini. Ga mengungkiri memang iya. Sebenarnya aku sudah tau novel ini sejak lama, sebelum jadi seviral ini. Tapi baru baca waktu dekat-dekat ini, 2017 lalu. dan itu pun belum seviral sekarang ini. Ga nyangka juga ternyata banyak yang baru tau tentang novel Dilan ini, apalagi sejak dirilis jadi sebuah film. Makin tambah viral Dilannya.

Tapi jujur aku memang dibuat kagum dengan sosok Dilan ini. Pertama baca novel ini, lembar demi lembar bikin ingin terus baca. Akhirnya ga berhenti-berhenti sampe keterusan bisa nyelesaiin satu serinya dalam waktu sehari. Ini pertama kali aku baca novel segila ini, dalam waktu singkat, ratusan halaman itu terbaca tuntas. Dan ingatan tentang Dilan itu begitu melekat dalam memori otakku.

Dilan, bukan hanya kata-kata dan sikapnya dalam mendapatkan Milea yang membuat aku kagum, bukan sekedar itu. Tapi banyak hal sederhana yang membuatku terkesima terhadapnya. Dilan sosok yang sangat menghormati ayah dan ibunya. Dia juga penyayang. Meskipun dia nakal, sering tawuran, tapi bukan tanpa alasan dia demikian. Dia hanya akan melawan kalau diserang duluan. Guna membela diri, bukan mencari-cari masalah.

Yang paling aku suka dari dia, bagaimana kedekatan hubungannya dengan Bundanya. Dia nakal suka tawuran tapi dengan ibunya dia sangat respect, sopan, lembut dan begitu penyayang. Aku juga kagum dengan bundanya. Sampai-sampai aku mengidolakan sosok ibu seperti beliau. Caranya dalam menyikapi Dilan yang demikian, begitu bijak dan elegan menurutku. Pokoknya I proud dah…! Adegan dimana Dilan membawa segelas air putih lantas meminta ibunya untuk membacakan doa pada air itu. Katanya minta doa restu ibu. Di situ aku merasakan kedekatan antara ibu dengan anak laki-lakinya. Sederhana memang, tapi kita akan dapat menemukan suatu keistimewaan jika mampu menilai lebih dalam alias lebih peka.

“Jika kau ingin tau sikap seorang lelaki itu baik atau sebaliknya, maka lihatlah bagaimana sikapnya terhadap ibunya” _Ma’rifaht_

Maksudnya, jika kalian para wanita ingin tau  bagaimana sikap seorang lelaki itu terhadap kita, bagaimana dia mampu menghormati dan menghargai wanita, maka lihatlah bagaimana sikapnya terhadap ibunya. Atau tanyakan bagaimana tanggapan dia tentang sosok ibunya. Maka dari situ kau akan tau, bagaimana sikap lelaki itu terhadap wanita. Misalnya wanita yang akan menemaninya kelak sebagai istrinya. Duh, jadi ngomongin apa sih ini…haha sory!!! kembali ke Dilan!

Pada intinya Dilan yang lebih sangat terkenal dengan romantisme itu, sebenarnya tidak hanya itu saja yang perlu menjadi alasan dia menjadi sosok yang mengagumkan. Tapi banyak hal, dari berbagai sisi yang lain. Mungkin bagi  yang cuma kenal dari nonton filmnya aja hanya dapat melihat sisi romantisme saja, terus kemana-mana niruin gaya dan kata-katanya yang gombal unik itu. Padahal banyak hal, banyak pesan moral yang dapat kita telaah jika kita mengenal Dilan dari membaca novelnya.

Terkait pro dan kontra, pada dasarnya semua itu tentu memiliki nilai plus minus masing-masing. Kaya magnet tuh, magnet aja ada sisi positif dan negatifnya, yang ada pada kutub utara dan kutub selatannya itu loh (jadi keingat pelajaran IPA dulu). hehehe

So, mari berpikir bijak dalam menilai segala hal. Tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja, lantas membuat kesimpulan. Tapi mari belajar melihat dari berbagai sudut yang lain, lantas temukan kesimpulan dengan menggunakan prinsip model bangun kerucut.

Cahaya_Ma’rifaht

Malang, 17 Feb. 18

Hikmah

Bersyukur

“Ya Robb, nikmat yang kau curahkan sungguh tiada terhitung namun hambamu ini masih saja perhitungan dalam bersyukur…”

poto-tentang-bersyukur-pada-Allah-atas-apapun-yang-terjadi-nmustapha-weebly-com

Nikmat yang Allah curahkan itu tiada terhitung, namun seringkali kita masih saja perhitungan dalam bersyukur.

_Ma’rifaht_

ALHAMULILLAH… sebuah kalimat seerhana yang sarat akan makna. salah satu bagian dari dzikir kepada Allah SWT. Sebuah kalimat yang memiliki arti segala puji bagi Allah (Tuhan semesta alam). entah betapa banyaknya nikmat yang telah Ia curah limpahkan kepada kita sebagai makhluknya, hambanya. kita diciptakan di dunia ini, sudah disediakan tempat tinggal berupa bumi beserta sekuruh isinya. kita bisa bertahan hidup dengan bernapas, makan, minum lengkap dengan segala fasilitas alam yang sudah disediakan oleh Allah SWT.

 

 

Doa (Nabi Sulaiman as.) Untuk Tetap Mensyukuri Nikmat Allah

“maka dia (Sulaiman as.) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. 27:19)

 

puisi

Rindu Itu Apa?

104964111-352-k372252

Oleh: Nur Ma’rifatul Jannah

 

Rindu itu belenggu, mengikat erat.

Rindu itu sendu, membawa rasa pilu.

Rindu itu merdu, bagai nyanyian lagu.

Rindu itu syahdu, khusyuk dalam kalbu.

Rindu itu madu, tetap manis meski ditepis.

Rindu itu hantu, gentayangan dalam angan.

Rindu itu debu, menerpa mata hingga pedih.

Rindu itu abu, sebab terbakar api cemburu.

Cahaya_Ma’rifaht

Malang, 07 Februari 2018

Cerita

CATATAN MA’RIFAHT

Kisah-hidup-Abu-Ubaidah-ibnul-Jarrah

Tentang Sebuah Mimpi

Kamis, 01 Feb. 18

Hari ini ketika aku membaca buku, sampai tertidur sambil mendengarkan radio. Hal itu masuk dalam mimpiku. Yah, ketika aku terbangun dengan keadaan masih sadar dan masih teringat apa yang ada dalam mimpiku.  Aku ingat dua nama itu, Ubai dan Muadz. Aku hanya ingat nama panggilannya saja. Seketika itu aku membuka-buka halaman buku yang tadi kubaca. Aku ingat meski samar-samar, dua nama itu tidak asing dan ada dalam apa yang aku baca tadi. Buku itu berjudul Rihlah Ibnu Bathuthah. Aku membolak balik halaman yang baru aku baca, dan yah aku menemukan nama itu di halaman 64. Begini yang tertulis dalam halaman tersebut tentang Ubai, “Di perjalanan menuju Ladziqiyah, aku melewati Ghaur, sebuah lembah yang di tempat itu terdapat makam Abu Ubaidah Al Jarrah. r.a. Aku menziarahi makam sahabat Nabi ini.” Dan paragraf berikutnya tentang Muadz, “Aku tiba di Qushair, sebuah tempat di mana sahabat Nabi, Muadz bin Jabal. r.a dimakamkan. Aku mengambil berkah dengan menziarahi makamnya itu.”  Dari situlah aku tahu nama lengkap mereka dan tahu bahwasanya mereka berdua adalah sosok sahabat Nabi.

Hanya sedikit dan samar-samar yang masih aku ingat. Kisah ketika Abu Ubaidah,  itu mengisahkan tentang sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.  ( ¼, ½, 2/3 dan 1). Beliau menanyakan kepada nabi perihal berapa banyak nabi ingin disebut dalam bagian dari do’a Ubai. Dengan menawarkan ¼ kemudian ½ dan seterusnya dari doa Ubai. Nabi pun menjawab, alaa maa syi’ta faidza zidta fahuwa khoir (terserah kau, jika kau tambah itu akan lebih baik). Hingga sampai akhirnya sahabat Ubai mengatakan, ia akan memperbanyak sholawat dalam doanya. Seluruh bagian dari do’anya akan selalu ia isi dengan bersholawat untuk Nabi. Kurang lebihnya seperti itu yang teringat.

Kalau kisah tentang sahabat Muadz, aku ingat intinya itu mengisahkan tentang kematian. Sayangnya aku tidak ingat dengan jelas bagaimana runtut ceritanya yang ada dalam mimpiku itu. Akhirnya aku coba searching di mbah google dengan keyword “Kisah Muadz bin Jabal”. Berikut kutipan kisahnya yang berkaitan dengan kematian;

“Mu’adz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Palestina. Mu’adz bin Jabal berada di Palestina pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular. Tak ayal, ia pun turut pula terkena wabah tersebut. Ketika hampir meninggal, ia berkata : “Selamat datang wahai kematian! Selamat datang kepada tamu yang tak kunjung tiba dan selamat datang kepada kekasih yang datang setelah sekian lama dirindukan.” Kemudian Muaz melihat ke langit dan berkata : “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyukai dunia apalagi untuk berada kekal di dalamnya selama-lamanya menanam pokok-pokok tanaman dan mengairi sungai, tetapi segala-galanya itu hanyalah sekedar untuk menghilangkan kehausan di kawasan-kawasan yang kekeringan serta mengarungi saat-saat kesusahan dan mendekati ulama-ulama dengan menunggang ke majelis-majelis dzikir. Oleh yang demikian terimalah diriku ini wahai Tuhanku dengan kebaikan sebagaimana Kamu menerima diri seseorang yang beriman.” Kemudian Muaz meninggal dunia. [republika.co.id][1]

Situasi dalam mimpi itu, aku tengah bersama dengan salah seorang temanku yang bernama Gerlys.  Kami berbincang-bincang, bercerita membahas tentang dua sahabat nabi tersebut. Abu Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal. Di serambi pondok putri. Di lapangan depan pondok itu ada banyak hewan unta. Jadi seperti lapangan padang pasir. Mimpi ini berakhir ketika aku tengah menanyakan pada penjaga unta-unta itu. “Pak, sekarang Gus Mastur sudah tidak ternak sapi lagi yah? Sekarang diganti unta?”

Settingnya mungkin memang tidak masuk akal, tapi yah begitulah mimpi. Indahnya penuh teka-teki. Hehehe…

Meskipun tulisan ini tidak jelas alurnya, semoga masih ada hikmah yang bisa di pungut dari tulisan yang berserakan ini. Selamat menikmati, meskipun tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Maafkan kalau berantakan ga jelas, maklum ini hasil dari perpaduan antara alam sadar dan bawah sadar. Hehehe…

Barangkali ingin mengenal lebih jauh tentang dua sahabat Nabi tersebut bisa googling sendiri ya…

Terima kasih sudah berkenan membaca 😊

Cahaya_Ma’rifaht

[1] http://unguviolet-nurdibumiadam.blogspot.co.id/2012/10/siapa-muaz-bin-jabal.html

puisi

Mengeja Rintik Hujan

tumblr_mawyhkl64s1qz4d4bo1_500

Oleh : Nur Ma’rifatul Jannah

Hujan sudah reda

Namun egomu,

tak kunjung mereda

Aku lelah…

Termangu dalam sepi

Aku benci…

Katamu, tunggulah hujan reda

Kulapangkan hati tuk menanti

Hingga hujan pun reda kini

Namun egomu?

Tak sebanding dengan derasnya hujan

Amarahmu?

Tak sebanding dengan gemuruh petir

Benar nyatanya…

Sederasnya hujan,

Segaduhnya petir

Ia masih bisa lekas mereda

Seketika gemuruh riuh menyepi

Gelapnya deras hujan mengabur

Namun egomu…

Ternyata melebihi hujan badai

Artikel

Tradisi Tetap Lestari

Buka luwur 10 muharrom di Kudus

19149280_1964051617208592_3660147935877460568_n

Oleh: Nur Ma’rifatul Jannah

Pergi ke kudus setiap tahunnya, bagiku adalah sebuah kerinduan yang sudah dinanti-nanti untuk dapat segera berjumpa.

“Rif, kamu ikut ke kudus?”

“Emank kapan?”

“Sekitar akhir bulan september ini, insyaAllah tanggal 29 berangkat Rif!”

“Wah, mau ikut! kebetulan pas ga ada UTS/UAS nih!”

Beberapa temanku memberi kabar via Whatsapp terkait acara rutinan setiap tahun di Kudus. Aku pun merasa senang dan antusias sekali mendapat kabar demikian. Apalagi kebetulan pada tanggal itu aku tidak ada agenda penting yang tidak bisa untuk ditinggalkan. Pergi ke kudus setiap tahunnya, sudah menjadi agenda rutinan kami, semua keluarga Pondok Pesantren Roudhotul Muttaqin. Yah di sanalah tempatku menimba ilmu sejak bangku SMP. Seluruh santri sangat senang jika sudah mendengar kabar hendak Ziarah ke Kudus. Tak hanya keluarga lingkup dalam pondok saja yang turut antusias mengikuti rutinan kegiatan tersebut,  pihak panitia juga membuka untuk umum bagi para alumni dan  warga sekitar serta siapapun yang ingin turut serta pula. Kebanyakan dari mereka juga merupakan jama’ah pengajian TAMAN SHOLAYA NKRI. Nama tersebut adalah nama kagiatan pengajian rutinan yang dilaksanakan setiap bulan. Tidak hanya di Mojokerto saja, tapi juga sudah menyebar hampir di seluruh kota di Indonesia seperti Sidoarjo, Jombang, Pasuruan, Pacet, Gresik, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Bali dan masih banyak lagi. Tapi saya masih kurang tahu untuk wilayah yang lebih jauh lagi. Nama tersebut  merupakan singkatan dari Tahlil Manaqib Sholawat dan Yasin. Dulu di malang juga pernah ada, tapi sayangnya sekarang sudah tidak aktif lagi karena sesuatu yang entahlah saya juga tidak tahu menahu. Jadi saya dan keluarga saya serta para jama’ah, kami semua beramai-ramai pergi ke sana.

Selain kota kudus yang menjadi tujuan utamanya, kami juga berziarah ke makam-makam para ulama yang lain. Tujuan pertama adalah ziarah ke makam para kiai sesepuh pendiri Pondok yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pesantren. Seusai membaca doa dan sebagainya, kami pun mulai melakukan perjalanan jauh. Tujuannya langsung ke Kota Kudus. Biasanya kami menuju ke Makam sunan Muria dulu, tapi karena ada kendala di sana masih sedang di tutup karena katanya usai terjadi longsor jadi perjalanan ziarah kali ini langsung menuju Kudus. oh maaf, sebelum ke kota kudus kami juga berziarah dulu ke sunan Kalijaga dan sunan Demak. Di sana tidak lama, usai berdo’a bersama dengan di pimpin oleh Kiai kami S.K.K.H.R.G.N.M. Habib Mastur, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke tujuan utama.

Tepat hari sabtu dini hari menjelang shubuh, kami sampai di Kota Kudus. Rasanya dahaga rindu ini sudah terasa lega kembali. Ba’da shubuh, pemandangan remang menjelang terbit matahari terasa begitu indah. Di sepanjang jalan depan menara dan masjid Kudus sudah ramai orang-orang yang berbaris.  Di sana juga banyak polisi dan aparat keamanan lainnya yang memandu masyarakat agar tertib dalam mengantri. Hal yang menurut saya unik dan membuat saya takjub adalah pemandangan seperti ini, ketika mereka tengah berbondong-bondong datang dari segala penjuru daerah untuk antri mendapatkan sebungkus nasi berkat. Kalau di kudus istilahnya ada yang menyebut nasi jangkrik, sego uya asem dan juga sego kanjeng sunan. Lebih menarik lagi, nasi itu di bungkus dengan daun jati. Nasi ini dibagikan secara gratis. Ribuan warga rela mengantri sejak shubuh sampai siang hari. Ada juga yang dari luar kota sudah menginap di sana untuk bisa mendapatkan nasi tersebut. Ada juga yang sampai mengantri berkali-kali untuk mendapatkan nasi berkat yang lebih untuk dijual ke orang lain yang biasanya enggan untuk mengantri, karena memang setiap orang  hanya mendapatkan jatah satu bungkus saja. Mereka menjualnya dengan harga sekitar 15 ribu perbungkus.

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, nasi tersebut dipercaya dapat membawa keberkahan, dapat menyembuhkan berbagai penyakit istilah jawanya sebagai tombo karena mengandung keberkahan dari kanjeng Sunan Kudus. Nasi tersebut dilengkapi dengan lauk daging kerbau dan kambing. Di sana tidak menggunakan daging sapi, karena setahu saya binatang sapi di sana masih di anggap keramat. Sebagaimana dulu awal penyebaran agama islam oleh sunan kudus, kebanyakan warga masih beragama hindu yang mana mereka ada yang menyembah patung sapi (samiri). Ada juga yang mengatakan kalau di sana memang tempatnya ternak kerbau. Nah, jumlah kerbau yang di sembelih sekitar 10 ekor dan kambing sekitar 70 ekor (menurut sumber yang saya baca di internet). Tapi kami tidak ikutan antri ketika pembagian nasi berkat tersebut. Mungkin lain kali bisa ikutan coba, biar dapat kesannya juga hehehe…

Acara pembagian nasi jangkrik ini, merupakan acara puncak tepatnya pada tanggal 10 Muharrom, selain itu juga ritual penggantian Luwur (kain putih penutup makam sunan kudus). Acara rutinan ini dimulai dari tanggal 1 muharrom. Mulai dari dilakukannya ritual pencucian kris pusaka sunan kudus, pelepasan luwur yang sudah satu tahun lamanya, khotmil Al Qur’an, pembacaan do’a-do’a dari para kiai dan lain sebagainya.

Di sana sudah disiapkan tempat peristirahatan khusus untuk rombongan kami. Setelah cukup istirahat dan membersihkan diri, saya dan teman saya pergi jalan-jalan keluar. Melihat susana kota kudus yang amat sekali berkesan dan menyenangkan. Sekitar pukul 9 siang, pintu gerbang masjid sudah mulai di buka. Oh iya, jadi ketika selama pembagian nasi jangkrik tadi masjid kudus d sterilkan, hanya ada para kiai yang ada di masjid untuk pembacaan Al Qur’an dan do’a. Setelah acara tersbut selesai, baru pintu gerbang di buka. Seraya orang-orang berbondong-bondong untuk masuk. Beberapa rombongan dari berbagai daerah bergilir masuk ke makom untuk membacakan do’a. Sebagian yang lain sambil menunggu giliran mereka i’tikaf di serambi-serambi Masjid. Ada juga yang berfoto-foto ria mengabadikan momen mereka di masjid Kudus tersebut. Oh iya, di sana kebetulan saya dan teman-teman sempat ketemu Dimas Back. Tapi nampaknya dia mungkin lagi sibuk syuting. Saya dan teman-teman tidak sempat foto bareng dia, kami selfy sendiri dan salah satu rekan dimas, kameramennya yang malah ikutan foto bareng kita. Hahaha…

Seusai rombongan kami melakukan pembacaan do’a bersama di makom sunan Kudus, kami pun segera menuju ke parkiran dan melanjutkan perjalanan menuju Pasujudan sunan Bonang. Letaknya di kabupaten Rembang. Menurut cerita, pasujudan sunan bonang yang berupa batu tersebut merupakan tempat bekas sujudnya sunan bonang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kami melaksanakan sholat jama’ dhuhur dan ashar di sana.

Setelah itu kami melanjutkan ziarah ke makom Sunan Bonang di Tuban. Ini merupakan tujuan terakhir kami. Di sana kami istirahat cukup lama. Setelah sholat jama’ maghrib dan isya, kami pun segera masuk berziarah ke makam serta memanjatkan tahlil dan do’a bersama. Seusai berdo’a, kami pun mencari oleh-oleh di sepanjang jalan pintu keluar dari makom. Para rombongan yang lain juga demikian, selain itu mereka juga beristirahat di warung-warung sekitar masjid guna mengisi perut mereka yang kosong.

Setelah cukup beberapa lama beristirahat di sana, kami pun melanjutkan  perjalanan pulang. Rasanya lega, puas, bahagia dan entahlah semuanya melumat menjadi satu dalam lelap tidurku sepanjang perjalanan pulang. Baru sadar sekitar pukul 1 tengah malam, kami sudah sampai di rumah. Rombongan yang lain, juga pasti langsung menuju ke daerah asal mereka masing-masing.

Keesokan paginya aku dikejutkan oleh dua bungkus kresek merah yang ternyata berisi nasi jangkrik dari kudus. Aku tidak tahu asal muasalnya. Katanya ada yang menaruh di jok mobil. Harusnya aku senang karena bisa mendapatkan nasi tersebut tanpa bersusah payah. Tapi tidak, justru rasanya sayang (eman) banget. Jadi keingat mereka-mereka yang mengantri susah payah datang dari jauh untuk mendapatkan nasi berkat tersebut. Tapi di rumah, itu ga ada yang makan. Nasinya juga sudah agak menjamur. Karena itu memang tidak bisa bertahan lama. Kalau misal tahunya sejak kemarin kan masih bisa di makan. Huuufffff….!

Sedikit info tambahan:

*Ada sekitar 16 pawon, untuk memasak nasi di dandang raksasa ukuran 85 kg. Kerja kolosal yang melibatkan ribuan orang.

*menyembelih Sekitar 10 ekor kerbau dan 70 kambing

Untuk informasi terkait yang lainnya, kalian bisa searching di google, ada banyak kok. Atau juga bisa di youtube.

Nah, ini salah satu link yang saya jadikan referensi juga. Silahkan menyaksikan!

( https://www.youtube.com/watch?v=7qPrCeH6Yvs )

berikut ini beberapa foto yang saya ambil di google

 

 

Cerpen

KETEGUHAN TEGUH

pelangi2

Karya : Nur Ma’rifatul Jannah

Siang ini, matahari begitu terik sinarnya. Menyilaukan spion-spion kendaraan bermotor. Dia biarkan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh kurusnya. Menyusuri jalan berlapis aspal tanpa alas di kakinya. Menjajakan Koran-koran dikala lampu lalu lintas menyala merah. Tak peduli terik matahari membakar hangus kulitnya ataupun memeras keringatnya. Tiada putus asa dia mengais rupiah tuk mendapat sesuap nasi. Sepulang sekolah, dia hanya datang ke rumah meletakkan buku dan mengganti baju seragamnya. Setelah itu, bergegas ia melangkahkan kakinya di sepanjang trotoar.

“Koran…koran….koran……Pak ? hari ini beritanya bagus, Pak! Ada anak yang tewas dibunuh ibunya sendiri, cuma gara-gara minta uang jajan tapi dia ibunya ga punya uang.”

“Beli saja pak, kasihan anak ini lugu sekali. Sampai mempromosikan beritanya segala. “Bisik seorang perempuan yang duduk di samping pak pengemudi sedan itu.

“Baiklah nak, ini saya beli satu.” Sambil menyodorkan uang bernilai 100.000 rupiah.

“Wah, maaf Pak! saya tidak punya kembalianya.”

“Buat ibu kamu saja, biar nanti kalau kamu minta uang jajan, ibu kamu tidak membunuhmu, seperti berita yang di koran ini.”

Sesaat, kedua orang tadi berlalu menembus lampu lalu lintas yang menyala hijau. Dia hanya tersenyum kecut mengingat perkataan orang itu.

“Tak apalah, Alhamdulillah baru satu koran yang terjual tapi sudah dapat 100.000 rupiah.” Syukurnya dalam hati.

Tak terasa 3 jam telah terlalui, adzan ashar telah berkumandang. Panggilan Allah untuk semua umat islam tuk bersujud padaNya. Sedari kecil dia tlah dianjurkan kedua orang tuanya tuk menyembah Allah, Tuhan satu-satunya yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Meskipun hanya keluarga miskin, tapi mereka tak pernah lalai dalam ibadahnya. Bapaknya yang bekerja sebagai tukang becak kini tidak dapat mengayuh si roda 3 itu lagi, sebab kecelakaan maut yang menimpanya. Tapi untung saja tidak merenggut nyawanya.

Bu Asih yang kini menggantikan posisi Pak Kadim sebagai tulang punggung keluarganya. Dengan menjual kue-kue basah dan kering dia mencoba agar dapat mencukupi kebutuhannya dan juga tetap bisa menyekolahkan Teguh, anak satu-satunya dari Pak Kadim dan Bu Asih.

Pak Kadim adalah seorang yang tekun dalam ibadahnya. Pasrah dengan nasib yang dialaminya. Menyerahkan segala takdir sepenuhnya kepada Allah. Tiada lagi mementingkan urusan duniawi. Akan tetapi sayangnya ia seperti orang tak punya tanggung jawab kepada anak dan istrinya. Sebenarnya Pak Kadim masih mampu bekerja lagi, tetapi dia sudah pasrah sepenuhnya terhadap ketentuan Allah tanpa mencoba tuk berusaha kembali memikul kehidupannya di dunia. Bu Asih memaklumi keputusan suaminya itu. Dia wanita yang tegar dan bertekad besar. Tak kenal lelah dia berkeliling menjajakan kue-kuenya. Berusaha dan berusaha melawan dunia yang begitu kejam menguras hati. Semangat itulah, yang membuat Teguh menjadi anak yang rajin sekolahnya, ibadahnya, dan juga membantu ibunya mengais uang.

Pada suatu ketika, saat mereka berkumpul di rumah bambunya yang amat sangat sederhana.

“Guh, sampai kapan kamu tetap bersekolah?” Tanya Pak Kadim kepada Teguh, seusai sholat magrib berjama’ah.

Teguh hanya terdiam merundukkan kepalanya dengan lesu.

“Sudahlah, nak! buat apa kamu sekolah terus? Kasihan ibumu yang terombang-ambing mencari uang untuk biaya sekolahmu itu?” sambil mengelus-elus rambut kepala Teguh.

Teguh tetap diam dan menunduk. Seperti membendung air mata yang hendak menetes.

“Teguh harus tetap sekolah, Pak!” Sahut Bu Asih tegas yang muncul dari pintu dapur.

Pandangan mereka tertuju pada Bu Asih. Teguh yang semula diam kini dia mengangkat kepalanya dan memandang ibunya dengan penuh belas kasih.

“Apa ibu sanggup membiayainya?”

“Ibu akan tetap berusaha semampu mungkin tuk dapat menyekolahkannya, Pak!”

“Niat ibu memang baik, tapi kondisi ekonomi kita tidak mendukung.”

“Allah akan tetap membantu umatnya yang mau berusaha dan tiada jenuh memohon pertolongan dariNya. Bapak ingat petuah almarhum Kakek Rochman ?”

“Ya tentu aku ingat, tapi……..”

“Pak, maafin Teguh yang mungkin hanya bisa menjadi beban bagi Bapak dan Ibu. Teguh memang anak yang tak berguna. Bisanya hanya menyusahkan orang tua saja. Tapi Teguh punya cita-cita, Teguh ingin mengubah nasib kita sekarang ini. Kalau memang Bapak dan Ibu nggak mampu lagi membiayai Teguh, Teguh rela jika harus putus sekolah. Teguh tidak mau melihat Bapak dan Ibu hidup susah berkepanjangan. Lebih baik memang Teguh tidak usah sekolah. Sekolah hanya menguras tenaga, fikiran, dan biaya terus menerus. Teguh tidak usah sekolah lagi!” Tegas Teguh dengan nada tinggi namun terdengar parau.

Setelah berkata panjang lebar terhadap orang tuanya, tiba-tiba dia langsung saja berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang kini hanya terdiam terpaku saling bertatap mata.

“Biarkan saja dia pergi menenangkan perasaannya.” Pak Kadim menenangkan kegelisahan istrinya pada Teguh yang keluar rumah entah kemana dengan perasaan yang sangat terpukul.

Keesokan harinya salah seorang guru menanyakan Teguh yang tak terlihat di sekitar sekolah selama beberapa hari ini.

“Teguh belum datang?” salah seorang guru menanyakan absensi siswa yang tidak masuk.

“Mungkin tidak masuk sekolah, Bu!” Jawab seorang teman Teguh

“Narno, kamu tau kenapa dia tidak sekolah?”

“Tidak, bu…!”

“Kamu kan teman dekatnya dia?”

“Tapi kemarin dia tidak bilang apa-apa sebelumnya.”

“Nanti kamu coba tengok dirumahnya ya? Kalau 3 hari dia belum juga masuk, nanti ibu sendiri yang menemuinya.”

“Baik, bu….!”

“Ya sudah ayo anak-anak, kita mulai pelajarannya. Buka buku sejarah halaman 32 Bab Pahlawan.” Serentak murid-murid mengikuti perintah Bu Sartika.

Teguh yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah, mungkin semangatnya mulai merapuh dan kekecewaan bergejolak dalam hatinya.

“Kamu bolos, nak?” Bu Asih menghampiri Teguh yang sedang melamun.

“Ndak bu!” Singkat dia menjawab.

“Kalau tidak bolos apa lagi namanya ?”

“Kalau bolos kan cuma beberapa hari saja, tapi Teguh ga sekolah seterusnya.”

“Apa? kamu harus tetap sekolah. Susah payah ibu memeras keringat supaya kamu bisa sekolah, nak!”

“Ibu ga usah lagi mikirin sekolah Teguh. Cukup buat makan kita sehari-hari saja dan kebutuhan pokok lainnya, bu !”

“Teguh, kamu dengarkan kata-kata ibumu ini. Bapak dan Ibumu sudah hidup sengsara berkekurangan, kamu harapan satu-satunya, ibu yakin kamu bisa menjadi yang lebih baik dari kedua orang tuamu ini. Tugas kamu sekarang belajarlah dengan rajin! Gapailah bintang-bintang berkelipan di langit. Ibu percaya, kamu pasti bisa membahagiakan Bapak dan Ibu. Jangan kecewakan harapan Ibu, Teguh, Seperti nama kamu, “Teguh” kamu harus teguh menghadapi cobaan di dunia ini. Jangan mudah putus asa. Ibu akan selalu mendoakan kamu, nak! kamu jangan lalai memohon pertolongan dan ridho Allah. Kamu ngerti kan!”

“Ibu…Teguh sayang ibu…!” Teguh memeluk erat ibunya dengan penuh kasih sayang dan haru rasa bangga.

Bu Asih, sosok ibu yang berambisi penuh keyakinan untuk dapat menyekolahkan anaknya di tengah ekonomi yang sangat menghimpit. Meskipun suaminya tidak mendukung, namun Bu Asih tak pernah jenuh membakar semangat Teguh yang sering meredup karena nasihat Bapaknya.

Keesokan harinya, tepat setelah Teguh 3 hari membolos. Bu Sartika menanyakan alasan mengapa Teguh tak masuk sekolah. Teguh menjelaskan alasan ketiadaan biaya yang membuatnya ragu untuk datang ke sekolah.

“Tidak perlu terlalu pusing memikirkan biaya sekolahmu. Saya dan pihak sekolah sudah mengusulkan pengajuan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu berprestasi. Kamu cukup lebih menekuni belajar kamu, agar tingkat sekolah lanjutan nanti masih tetap bisa menampung dan membiayai sekolah kamu.”Jelas Bu Sartika saat itu.

Teguh hanya bisa berkata terima kasih banyak atas kebijakan dari pihak sekolah. Matanya tampak berbinar-binar. Menunjukkan betapa bahagia dan bersyukurnya dia kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan yang tak terduga. Dalam fikirannya terbayang jelas sosok wajah Bapak dan Ibunya yang tersenyum bangga.

“Bu….Pak…. akhirnya Teguh bisa meneruskan sekolah Teguh tanpa harus menjadi beban berat bagi kalian. Justru Teguh bisa menjadi yang lebih baik.” Ungkapan perasaan Teguh yang penuh kebahagiaan.

Akhirnya, Teguh bisa meneruskan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Prestasi-prestasi yang dia bangun selama ini, kini telah membuahkan hasil. Penuh liku rintangan yang membuatnya hendak putus sekolah. Berkat do’a dan semangat seorang Bu Asih yang selalu tercurahkan, harapan untuk anaknya agar dapat menjadi yang lebih baik, kini bukanlah sekedar mimpi semu yang tak berarti, melainkan kenyataan yang amat sangat indah. Peristiwa ini akhirnya dapat mengetuk pintu hati Pak Kadim yang semula tak mendukung, kini dia merasa salut dan bangga dengan perjuangan anak istrinya itu. Bahkan dia merasa kalau dia bukanlah sosok kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab. Namun hati nurani dengan rasa cinta kasih anaknya yang tulus mampu meyakinkan Pak Kadim. Teguh percaya, dibalik sikap bapaknya yang nampak tak peduli, tetapi sebenarnya Bapaknya selalu mendo’akan keberhasilannya. Teguh tidak pernah menuntut bapaknya untuk bekerja membiayai keperluan hidupnya, justru Teguh bertekad untuk bisa membahagiakan dan memulyakan kedua orang tuanya.

“Tidak salah ibu kamu memberikan nama “Teguh” untukmu sejak lahir. Terbukti kini kau tumbuh dan berkembang menjadi anak yang Teguh pendiriannya, Teguh imannya, Teguh tekadnya, dan Teguh hatinya. Memang kau benar-benar anak yang Teguh.” Puji Pak Kadim terhadap anak dan istrinya.

Rampung di tulis Kamis, 02 Desember 2010 Pukul 23:11 WIB

Selesai diketik Rabu, 09 Desember 2015 Pukul 07:36 WIB

puisi

Sahabat Abstrakku

rain_1a
Nur Ma’rifatul Jannah

Hujan…

Masih tentang hujan…

Ia menyimpan begitu banyak arti

Yang tak semua orang dapat mengerti

Ia menyimpan begitu banyak rahasia

Yang tak semua orang dapat merasa

Ia menyimpan begitu banyak rasa

Yang tak semua orang dapat meraba

Ada kesejukan di tiap bulirnya

Ada bisikan rindu di tiap gemericiknya

Ada kenangan di setiap hembus aromanya

Apalah arti hujan sesungguhnya?

Begitu banyak orang menafsirkan hujan

Dengan sudut pandang yang beragam

Ia dianggap anugrah

kadang juga bencana

Ia dianggap lambang kebahagiaan

Kadang juga kedukaan

Ia dianggap sebagai penyemai harapan

Kadang juga penguras airmata

Bagaimanakah sosok sebenarnya hujan?

Mengapa orang mencintai dan membencinya?

Namun kenapa aku justru begitu mencintai hujan?

Meski sederas apapun ia mengguyur

Namun tak sedikitpun mengikiskan kecintaanku padanya

Meski ia mengguyur basah kuyup tubuh ini,

Menggigilkan tubuh yang rentan ini,

Membuatku terbaring demam esoknya,

Aku tetap mencintainya

Bagiku hujan adalah sahabat abstrakku

Ia menyimpan semua rahasia hatiku dalam derai rintiknya

Yang tak dapat setiap orang pahami

Hanya aku dan Yang mentitahkan hujan itu sendiri

Cahaya_Ma’rifaht

Malang, kala rintik hujan