Cerpen

Hangatnya Air Mata Cinta

oleh : Nur ma’rifatul jannah

Hatinya seakan telah beku. Sebenarnya bukan beku, hanya saja ia ingin istirahat. Sudah lama ia berhenti dari semua bahasan tentang cinta. Bukan karena telah jera lantas membenci cinta. Bukan karena itu, hanya saja ia lelah membiarkan air matanya seringkali menetes. Namun terkadang ia juga merindukan rasa itu. Merasakan sesaknya dada, merasakan perihnya luka, merasakan panasnya mata saat tengah membendung air mata agar tak sampai menetes. Kegilaan macam apa itu? Bagaimana ia justru merindukan kedukaan, rasa sakit bahkan bisa disebut penderitaan?

Sudah bertahun-tahun lamanya ia tak pernah lagi membuka hati sekalipun untuk siapapun, meski pintunya telah diketuk berkali-kali. Bukan karena ia tak mau keluar dari keterpurukan lantas  bersembunyi memilih terkunci di balik pintu. Ia sebenarnya juga sangat menginginkannya, menginginkan untuk lekas keluar menyambut cinta dengan sosok yang baru. Tapi apa daya kunci itu memang bukan ia sendiri yang membawanya. Ia juga tak tahu siapakah yang membawa kunci itu. Sesekali ia begitu ingin membuka pintu itu, memaksa untuk membuka tanpa kunci, tapi sia-sia. Sekalipun dengan mendobraknya, pintu itu sungguh kuat menahan dorongan paksaan. Pintu itu mungkin memang hanya bisa dibuka dengan kuncinya sendiri. Terkadang ia lelah dengan semua ini, bertanya-tanya dalam benak. Apa maksud dari semua ini? Hingga hati kecilnya menjawab, “Bukanlah sembarang orang yang bisa membuka pintu itu, bahkan dirimu sendiri tak akan dapat membukakannya  untuk siapapun meski kau menginginkannya kecuali yang membawa kunci itulah yang bisa membukanya.” Ia terdiam berpikir, menyimpulkan sendiri makna dari kata hatinya.

493821fff2203cf5965af9d58f17c4ec

Memang benar apa yang tlah diujar oleh hatinya, namun sampai kapan? Sosok siapa yang telah membawa kunci itu? Apakah pencuri yang telah mengambilnya? Atukah seorang yang tak tahu menahu mengenai kunci itu? Ia tak sengaja memungutnya dan tak tahu siapa pemiliknya, mungkin. Hendak dikemanakan kunci itupun ia tak tahu. Lantas? Akankah gadis itu dibiarkan hanya menunggu di balik sudut pintu menanti kunci itu kembali dan membukanya? Bukankah sebuah kunci bisa digandakan? Atau memanggil juru kunci untuk membukanya? Kenapa itu tak ia lakukan saja?

Tidak, itu bukanlah cara yang tepat. Memang bisa saja kau memanggil juru kunci jika mau, kapanpun ia bisa datang membantumu membuka pintu itu. Karena itu memang sudah menjadi keahliannya. Lantas, apa yang hendak ingin kau perbuat setelah juru kunci itu berhasil membuka pintumu? Akankah kau menyambutnya dengan senang hati? Seraya tersenyum bahagia dan memuji-mujinya dengan kata terima kasih yang begitu sungguh? Padahal ia dapat membuka pintu itu karena itu memang tugas sebagai profesinya. Kalau itu memang sudah menjadi profesinya, lantas berapa kunci kah yang sudah berhasil ia gandakan? Berapa pintukah yang berhasil ia buka dengan keahliannya tanpa perlu kunci yang asli?

Akhwat? Masihkah kita tidak sabar menanti si pembawa kunci pintu hati  kita yang asli untuk membukanya dan menjemput kita dari penantian di balik ambang pintu?

(sekilas cuplikan dari sepenggal cerita yang belum usai ) hehehehehe :p 😀

Cahaya_Ayya

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s